Belakangan ini hampir nggak ada cerita yang luar biasa yang gue alami.. Entah, mungkin cerita luar biasa sudah malas menghampiri gue..atau memang gue yang kurang peka dalam melihat segala proses-jatuh-bangun-berjuang-bertahan-mencari-menemukan-segala hal yang seharusnya bisa membuat hidup gue jauh lebih bermakna.. lebih luar biasa.
Tak begitu terasa jalannya waktu, tiba-tiba hari sudah semakin menua menjadi minggu.. dan minggu pun sudah silih berlalu berganti dengan bulan. Semuanya berjalan sebegitu cepat sampai gue lupa bagaimana seharusnya bisa menikmati hari-hari yang gue jalani. Semua hal yang gue hadapi harus sesuai dengan target yang gue buat. Target..target..dan target. Semuanya harus ada target, dan target itu harus dipenuhi.
Untuk beberapa saat, gue terlena akan target yang gue buat sendiri. Gue merasa buta, karena semua harus terjadwal, harus pasti, dan harus terlaksana.
"Semua harus begini.. Semua harus ada jadwalnya. Semua harus sesuai dengan yang sudah direncanakan. Agar nanti kamu kerjanya enak, sekarang susah-susah dulu ndak apa-apa. Yang penting kuliah mu selesai 4 tahun, terus kerja jadi guru di swasta atau di negeri, terserah! Yang penting kerja dulu, nambah pengalaman.. Syukur-syukur kamu nanti bisa ambil S2 lalu kerja jadi dosen gitu!. " begitu kata bapak gue sore itu. Sebuah perkataan yang endadak membuat semuanya berantakan.
Sore itu dengan penuh kesengajaan gue langsung cabut seusai kuliah. Meninggalkan semua pekerjaan rutin yang biasa gue lakuin seusai pulang kuliah, meninggalkan semua rapat yang harus gue hadiri, meninggalkan semua cerita indah dari sahabat yang harus gue dengar sore itu.. Semua demi satu tujuan..ngobrol bareng bapak!. Satu-satunya orang yang membuat gue mau bertahan pada program studi yang gue ambil saat ini, satu-satunya orang yang membuat gue menolak sebuah pekerjaan yang sudah ditawarkan ke gue.. demi membuat beliau bangga. Bangga karena dia memiliki anak yang bergelar sarjana.
Sore itu kami duduk bersama di ruang tamu rumah kami. Hanya ada kami berdua, hanya ada ayah dan anaknya yang beranjak menuju sebuah kelas baru dalam hidup. Kelas yang banyak disebut dengan kelas kedewasaan. Kelas dimana kadang kita menemui bahwa hidup ini tidak seperti apa yang ada di buku-buku dongeng. Perlu usaha yang tidak hanya keras, tapi jauh dan jauh lebih keras lagi untuk bisa membuat suatu akhir seperti di buku-buku dongeng.
Bersama teh hangat khas ibu gue dan sebuah lantunan orkestra dari suara deras hujan yang turun, bapak gue memulai percakapnnya. Sebuah percakapan tentang masa depan, masa depan putra sulungnya yang seakan tidak bisa menentukan akan jadi apa dia nanti.


